Back
Register Login
Home

Tafsir Mimpi Sesuai Sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Selamat datang di http://mimpiku.web.id

Ketika kita tidur terkadang kita bermimpi dan terkadang mimpi itu seperti nyata dan terkadang samar.
Terkadang mimpi tersebut kita mengerti namun banyak mimpi yang  kita rasakan nyata namun tak bermakna.
Ketika mimpi itu baik bagi kita maka kita senang, dan merasakan kelegaan ketika terbangun.
Dan terkadang mimpi itu kita rasakan buruk dan membuat hati kita bersedih.
Namun benarkah yg kita rasakan kesenangan dalam mimpi itu adalah kesenangan juga di dunia nyata, ataukah yang kita rasakan buruk adalah sesuatu yang buruk pula untuk hidup kita?

 

Rosulullah bersabda:

"Apabila zaman mulai berdekatan (waktu terasa singkat), hampir-hampir mimpi seorang mu'min itu tidak berdusta. Dan mimpi seorang mu'min adalah sebagaian dari 76 cabang Nubuwwah. Dan apa saja yang berasal dari Nubuwwah maka tidak akan pernah dusta."

(HR Al-Bukhori:7017 dan Muslim: 22)


 

--------------------------------------



 

Sesungguhnya mimpi itu bisa terjadi karena 3 hal:


 

Dari Abu Hurairahradhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله


“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari 7017)

Adapun kabar gembira dari Allah maksudnya adalah mimpi-mimpi yang terlihat nyata, dan kita tidak merasakan sedang bermimpi ketika kita tidur.



Mimpi yang datang dari Allah tersebut selalu menjadi kabar gembira bagi seorang muslim, baik itu mimpi baik ataupun mimpi buruk. Mimpi baik tentunya mimpi yang mempunyai tafsiran baik, dan mimpi buruk adalah mimpi yang mempunyai tafsir buruk.

Mimpi buruk ini ketika Allah kabarkan pada kita maka kita dapat berhati-hati agar mimpi buruk tersebut akan menjadi baik pada akhirnya. Itulah yang dimaksud dengan kabar gembira dari Allah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa qodlo itu masih dapat berubah dan qodar itu sudah tidak dapat berubah. Bila sesuatu yang Allah tetapkan untuk kita dan itu belum terjadi maka itu disebut qodlo. Dan segala sesuatu yang Allah tetapkan untuk kita dan telah terjadi maka itu disebut Qodr atau Qodar(bahasa Indonesia).

Maka mimpi yang datang dari Allah itu terkadang menjelaskan apa yang telah terjadi dan terkadang menunjukkan apa yang akan terjadi. Ketika mimpi itu menunjukkan sesuatu kepada yang telah terjadi maka kita dapat berlindung atas akibat dari mimpi tersebut jika itu buruk dan kita dapat bersyukur atas akibat dari mimpi tersebut jika itu baik. Adapun jika mimpi itu menunjukkan kepada sesuatu yang akan terjadi maka kita dapat berlindung agar tidak terjadi jika itu mimpi buruk, atau kita dapat berdoa agar dijauhkan dari takdir buruk tersebut dan akibat yang ditimbulkannya jika itu memiliki tafsiran buruk.

Sehingga apakah itu mimpi buruk ataupun baik jika datangnya dari Allah, akan menjadi berita gembira (بشرى) bagi seorang muslim.

--------------------------------------------

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar mimpi buruk tidak diceritakan kepada siapapun.
Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah Rodhiallahu ‘anhu, bahwa ada seorang Arab badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:
"Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya".
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,


لاَ تُحَدثِ الناسَ بِتَلَعبِ الشيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ

"Jangan kau ceritakan kepada orang lain kelakuan setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi".



Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalam salah satu khutbahnya,


لاَ يُحَدثَن أَحَدُكُمْ بِتَلَعبِ الشيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ

“Jangan sekali-kali kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan diri kalian di  alam mimpi” (HR Muslim 2268).



Dalam riwayat lain, beliau menjamin ketika seseorang melupakan mimpi itu dan memohon perlindungan dari setan, maka mimpi itu tidak akan berdampak buruk baginya. Beliau bersabda:



وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوذْ بِاللهِ مِنْ شَرهَا، وَمِنْ شَر الشيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا، وَلاَ يُحَدثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنهَا لَنْ تَضُرهُ

Apabila kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri 3 kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.”

(HR. Bukhari 7044, Muslim 2261, dan yang lainnya)



Mengapa Rosul melarang untuk memceritakan mimpi buruk?
Karena mimpi buruk itu ketika diceritakan, dapat menimbulkan sugesti sehingga ia melakukan apa yang menjadi sugestinya tersebut dan akhirnya mimpi buruk itu pun benar-benar terjadi, padahal ia sudah memohon perlindungan Allah. Terjadi karena perasangka hatinya, mungkin Allah sudah mengabulkan doanya agar dijauhkan dari mimpi buruk tersebut sebelumnya. Namun karena hatinya berperasangka bahwa mimpi buruk itu akan terjadi maka Allah mengabulkan perasangka hatinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
 

أَنَا عِنْدَ ظَن عَبْدِى بِى

 

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).




Maka ketika mimpi buruk itu kita adukan kepada Allah, dan kita berdoa meminta Allah dari mimpi tersebut, setelah itu jangan kita ceritakan kepada orang lain agar tidak menjadi sugesti di hati kita dan di hati orang yang kita ceritakan. Sehingga tidak ada keyakinan bahwa mimpi itu akan terjadi. Dan Allahpun mengabulkan agar mimpi buruk itu tidak terjadi.

---------------------------------

Berikut sebagian dari isi kitab ini:

Cinta kepada Allah Ta'ala dalam mimpi artinya kekokohan dalam islam, lurusnya keyakinan dan mengikuti sunnah nabi Shallallahu'alai wasallam. Dan jika seseorang mencintai orang lain karena Allah Ta'ala, menunjukkan kecintaan Allah dan rahmat-Nya. Dan kalau dia mencintai bukan karena Allah, artinya keresahan dan kesusahan.

(http://mimpiku.web.id/tafsir/c/Cinta.html)

Ular Dalam mimpi menunjukkan musuh yang berharta. Jika dia bermimpi seekor ular masuk ke rumahnya, artinya musuh yang melakukan makar terhadapnya. Kalau dia membunuhnya artinya dia meangalahkan musuh itu. Siapa yang bermimpi membunuh seekor ular di ranjangnya, artinya isterinya wafat. Kalau mimpi di rumahnya penuh ular dan dia tidak takut, artinya dia melihat musuh kaum muslimin dan pengekor hawa nafsu.

Kalau bermimpi melihat seekor ular mati, artinya Allah Subhanahu Wata’ala membinasakan musuhnya tanpa membebaninya. Kalau dia melihat ular masuk ke dalam rumahnya lalu keluar tanpa menimbulkan madharat, artinya musuh-musuhnya dari keluarga dan kerabatnya sendiri.  

(http://mimpiku.web.id/tafsir/u/Ular.html)

-------------------------------

Petunjuk Penggunaan:

Pilih huruf sesuai mimpi kita. Jika kita bermimpi tentang ular maka silahkan memilih huruf U kemudian pilih Ular.

Abu (رماد)
Refresh Halaman jika tafsir tidak muncul    

Abu dalam mimpi artinya adalah sebuah amalan atau perbuatan. Jika abu tersebut terbawa angin artinya adalah perbuatan yg tidak bermanfaat / sia-sia

Sebagai mana firman Allah ﷻ : 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ ٱشْتَدَّتْ بِهِ ٱلرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلْبَعِيدُ

Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.

(QS: Ibrahim Ayat: 18)

Dan hadits Rosulullah ﷺ

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، سَمِعْتُ أَبِي، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الْغَافِرِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً فِيمَنْ سَلَفَ ـ أَوْ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ قَالَ كَلِمَةً يَعْنِي ـ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالاً وَوَلَدًا ـ فَلَمَّا حَضَرَتِ الْوَفَاةُ قَالَ لِبَنِيهِ أَىَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ قَالُوا خَيْرَ أَبٍ‏.‏ قَالَ فَإِنَّهُ لَمْ يَبْتَئِرْ ـ أَوْ لَمْ يَبْتَئِزْ ـ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا، وَإِنْ يَقْدِرِ اللَّهُ عَلَيْهِ يُعَذِّبْهُ، فَانْظُرُوا إِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي حَتَّى إِذَا صِرْتُ فَحْمًا فَاسْحَقُونِي ـ أَوْ قَالَ فَاسْحَكُونِي ـ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ رِيحٍ عَاصِفٍ فَأَذْرُونِي فِيهَا ‏"‏ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ فَأَخَذَ مَوَاثِيقَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَرَبِّي، فَفَعَلُوا ثُمَّ أَذْرَوْهُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُنْ‏.‏ فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَائِمٌ‏.‏ قَالَ اللَّهُ أَىْ عَبْدِي مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ فَعَلْتَ مَا فَعَلْتَ قَالَ مَخَافَتُكَ أَوْ فَرَقٌ مِنْكَ قَالَ فَمَا تَلاَفَاهُ أَنْ رَحِمَهُ عِنْدَهَا ـ وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى فَمَا تَلاَفَاهُ غَيْرُهَا ـ ‏"‏‏.‏ فَحَدَّثْتُ بِهِ أَبَا عُثْمَانَ فَقَالَ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ سَلْمَانَ غَيْرَ أَنَّهُ زَادَ فِيهِ أَذْرُونِي فِي الْبَحْرِ‏.‏ أَوْ كَمَا حَدَّثَ‏.‏ 
حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِرْ‏.‏ وَقَالَ خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِزْ‏.‏ فَسَّرَهُ قَتَادَةُ لَمْ يَدَّخِرْ‏.‏

Ringkasan hadits di atas adalah:

Nabi menyebutkan seorang lelaki dari masa lalu. dan menceritakan kisahnya dengan mengatakan: "Allah telah memberinya kekayaan dan anak. Ketika kematiannya telah mendekat, dia berkata kepada putra-putranya: "Ayah macam apakah aku ini bagi kalian?"

Mereka menjawab: "Engkau adalah ayah yang baik."

Namun dia mengatakan kepada mereka bahwa dia tidak menampakkan perbuatan baik di sisi Allah, dan jika Allah memangggilnya, maka Allah akan menghukumnya.

'“Perhatikanlah wasiatku!”, dia menambahkan,

“Ketika aku mati nanti, bakarlah aku, dan ketika aku berubah menjadi batu bara, hancurkanlah aku, dan ketika datang hari yang berangin, taburkanlah abuku dalam angin. "

(Sahih Bukhari 9 : 599)

Nabi menambahkan: " Maka demi Allah, dia mengambil janji yang tegas dari anak-anaknya untuk melakukannya, dan mereka melakukannya. (Mereka membakar dia setelah kematiannya) dan melemparkan abunya pada hari yang berangin".

Kemudian Allah memerintahkan kepada abunya. "Jadilah," maka abu itupun berubah menjadi pria yg berdiri sempurna.

Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku! Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan? "

Dia menjawab: " Karena aku takut akan Mu. "

Tidak ada yang menyelamatkannya selain Rahmat Allah (Sehingga, Allah memaafkannya)."

(Sahih Bukhari 9: 599)

-------------------------------

Ashes in a dream means a practice or deed. If the ash is carried by the wind it means that the action is not useful / useless

As where is the word of God ﷻ:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ ٱشْتَدَّتْ بِهِ ٱلرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلْبَعِيدُ

The example of those who disbelieve in their Lord is [that] their deeds are like ashes which the wind blows forcefully on a stormy day; they are unable [to keep] from what they earned a [single] thing. That is what is extreme error. (QS: Ibrahim Verse: 18)

And the hadith of the Prophet ﷺ

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، سَمِعْتُ أَبِي، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الْغَافِرِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً فِيمَنْ سَلَفَ ـ أَوْ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ قَالَ كَلِمَةً يَعْنِي ـ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالاً وَوَلَدًا ـ فَلَمَّا حَضَرَتِ الْوَفَاةُ قَالَ لِبَنِيهِ أَىَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ قَالُوا خَيْرَ أَبٍ‏.‏ قَالَ فَإِنَّهُ لَمْ يَبْتَئِرْ ـ أَوْ لَمْ يَبْتَئِزْ ـ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا، وَإِنْ يَقْدِرِ اللَّهُ عَلَيْهِ يُعَذِّبْهُ، فَانْظُرُوا إِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي حَتَّى إِذَا صِرْتُ فَحْمًا فَاسْحَقُونِي ـ أَوْ قَالَ فَاسْحَكُونِي ـ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ رِيحٍ عَاصِفٍ فَأَذْرُونِي فِيهَا ‏"‏ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ فَأَخَذَ مَوَاثِيقَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَرَبِّي، فَفَعَلُوا ثُمَّ أَذْرَوْهُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُنْ‏.‏ فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَائِمٌ‏.‏ قَالَ اللَّهُ أَىْ عَبْدِي مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ فَعَلْتَ مَا فَعَلْتَ قَالَ مَخَافَتُكَ أَوْ فَرَقٌ مِنْكَ قَالَ فَمَا تَلاَفَاهُ أَنْ رَحِمَهُ عِنْدَهَا ـ وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى فَمَا تَلاَفَاهُ غَيْرُهَا ـ ‏"‏‏.‏ فَحَدَّثْتُ بِهِ أَبَا عُثْمَانَ فَقَالَ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ سَلْمَانَ غَيْرَ أَنَّهُ زَادَ فِيهِ أَذْرُونِي فِي الْبَحْرِ‏.‏ أَوْ كَمَا حَدَّثَ‏.‏ 
حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِرْ‏.‏ وَقَالَ خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِزْ‏.‏ فَسَّرَهُ قَتَادَةُ لَمْ يَدَّخِرْ‏.‏

The summary of the hadith above is:

The Prophet mentioned a man from the people of the past or those who preceded you. The Prophet said a sentence meaning: Allah had given him wealth and children. When his death approached, he said to his sons, "What kind of father have I been to you?" They replied, "You have been a good father." He told them that he had not presented any good deed before Allah, and if Allah should get hold of him He would punish him.' "So look!" he added, "When I die, burn me, and when I turn into coal, crush me, and when there comes a windy day, scatter my ashes in the wind." The Prophet added, "Then by Allah, he took a firm promise from his children to do so, and they did so. (They burnt him after his death) and threw his ashes on a windy day. Then Allah commanded to his ashes. "Be," and behold! He became a man standing! Allah said, "O My slave! What made you do what you did?" He replied, "For fear of You." Nothing saved him then but Allah's Mercy (So Allah forgave him).

(Sahih Bukhari 9: 599)

Abu dalam mimpi artinya adalah sebuah amalan atau perbuatan. Jika abu tersebut terbawa angin artinya adalah perbuatan yg tidak bermanfaat / sia-sia

 

Sebagai mana firman Allah ﷻ :

 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ ٱشْتَدَّتْ بِهِ ٱلرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلْبَعِيدُ

 

Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.

 

(QS: Ibrahim Ayat: 18)

 

Dan hadits Rosulullah ﷺ

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، سَمِعْتُ أَبِي، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الْغَافِرِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً فِيمَنْ سَلَفَ ـ أَوْ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ قَالَ كَلِمَةً يَعْنِي ـ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالاً وَوَلَدًا ـ فَلَمَّا حَضَرَتِ الْوَفَاةُ قَالَ لِبَنِيهِ أَىَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ قَالُوا خَيْرَ أَبٍ‏.‏ قَالَ فَإِنَّهُ لَمْ يَبْتَئِرْ ـ أَوْ لَمْ يَبْتَئِزْ ـ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا، وَإِنْ يَقْدِرِ اللَّهُ عَلَيْهِ يُعَذِّبْهُ، فَانْظُرُوا إِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي حَتَّى إِذَا صِرْتُ فَحْمًا فَاسْحَقُونِي ـ أَوْ قَالَ فَاسْحَكُونِي ـ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ رِيحٍ عَاصِفٍ فَأَذْرُونِي فِيهَا ‏"‏ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ فَأَخَذَ مَوَاثِيقَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَرَبِّي، فَفَعَلُوا ثُمَّ أَذْرَوْهُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُنْ‏.‏ فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَائِمٌ‏.‏ قَالَ اللَّهُ أَىْ عَبْدِي مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ فَعَلْتَ مَا فَعَلْتَ قَالَ مَخَافَتُكَ أَوْ فَرَقٌ مِنْكَ قَالَ فَمَا تَلاَفَاهُ أَنْ رَحِمَهُ عِنْدَهَا ـ وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى فَمَا تَلاَفَاهُ غَيْرُهَا ـ ‏"‏‏.‏ فَحَدَّثْتُ بِهِ أَبَا عُثْمَانَ فَقَالَ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ سَلْمَانَ غَيْرَ أَنَّهُ زَادَ فِيهِ أَذْرُونِي فِي الْبَحْرِ‏.‏ أَوْ كَمَا حَدَّثَ‏.‏

حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِرْ‏.‏ وَقَالَ خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِزْ‏.‏ فَسَّرَهُ قَتَادَةُ لَمْ يَدَّخِرْ‏.‏

 

Ringkasan hadits di atas adalah:

 

Nabi menyebutkan seorang lelaki dari masa lalu. dan menceritakan kisahnya dengan mengatakan: "Allah telah memberinya kekayaan dan anak. Ketika kematiannya telah mendekat, dia berkata kepada putra-putranya: "Ayah macam apakah aku ini bagi kalian?"

 

Mereka menjawab: "Engkau adalah ayah yang baik."

 

Namun dia mengatakan kepada mereka bahwa dia tidak menampakkan perbuatan baik di sisi Allah, dan jika Allah memangggilnya, maka Allah akan menghukumnya.

 

'“Perhatikanlah wasiatku!”, dia menambahkan,

 

“Ketika aku mati nanti, bakarlah aku, dan ketika aku berubah menjadi batu bara, hancurkanlah aku, dan ketika datang hari yang berangin, taburkanlah abuku dalam angin. "

 

(Sahih Bukhari 9 : 599)

 

Nabi menambahkan: " Maka demi Allah, dia mengambil janji yang tegas dari anak-anaknya untuk melakukannya, dan mereka melakukannya. (Mereka membakar dia setelah kematiannya) dan melemparkan abunya pada hari yang berangin".

 

Kemudian Allah memerintahkan kepada abunya. "Jadilah," maka abu itupun berubah menjadi pria yg berdiri sempurna.

 

Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku! Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan? "

 

Dia menjawab: " Karena aku takut akan Mu. "

 

Tidak ada yang menyelamatkannya selain Rahmat Allah (Sehingga, Allah memaafkannya)."

 

(Sahih Bukhari 9: 599)

 

-------------------------------

 

Abu in a dream means a practice or deed. If the ash is carried by the wind it means that the action is not useful / useless

 

As where is the word of God ﷻ:

 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ ٱشْتَدَّتْ بِهِ ٱلرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلْبَعِيدُ

 

The example of those who disbelieve in their Lord is [that] their deeds are like ashes which the wind blows forcefully on a stormy day; they are unable [to keep] from what they earned a [single] thing. That is what is extreme error. (QS: Ibrahim Verse: 18)

 

And the hadith of the Prophet ﷺ

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، سَمِعْتُ أَبِي، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الْغَافِرِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً فِيمَنْ سَلَفَ ـ أَوْ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ قَالَ كَلِمَةً يَعْنِي ـ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالاً وَوَلَدًا ـ فَلَمَّا حَضَرَتِ الْوَفَاةُ قَالَ لِبَنِيهِ أَىَّ أَبٍ كُنْتُ لَكُمْ قَالُوا خَيْرَ أَبٍ‏.‏ قَالَ فَإِنَّهُ لَمْ يَبْتَئِرْ ـ أَوْ لَمْ يَبْتَئِزْ ـ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا، وَإِنْ يَقْدِرِ اللَّهُ عَلَيْهِ يُعَذِّبْهُ، فَانْظُرُوا إِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي حَتَّى إِذَا صِرْتُ فَحْمًا فَاسْحَقُونِي ـ أَوْ قَالَ فَاسْحَكُونِي ـ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ رِيحٍ عَاصِفٍ فَأَذْرُونِي فِيهَا ‏"‏ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ فَأَخَذَ مَوَاثِيقَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَرَبِّي، فَفَعَلُوا ثُمَّ أَذْرَوْهُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُنْ‏.‏ فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَائِمٌ‏.‏ قَالَ اللَّهُ أَىْ عَبْدِي مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ فَعَلْتَ مَا فَعَلْتَ قَالَ مَخَافَتُكَ أَوْ فَرَقٌ مِنْكَ قَالَ فَمَا تَلاَفَاهُ أَنْ رَحِمَهُ عِنْدَهَا ـ وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى فَمَا تَلاَفَاهُ غَيْرُهَا ـ ‏"‏‏.‏ فَحَدَّثْتُ بِهِ أَبَا عُثْمَانَ فَقَالَ سَمِعْتُ هَذَا مِنْ سَلْمَانَ غَيْرَ أَنَّهُ زَادَ فِيهِ أَذْرُونِي فِي الْبَحْرِ‏.‏ أَوْ كَمَا حَدَّثَ‏.‏

حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِرْ‏.‏ وَقَالَ خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، وَقَالَ، لَمْ يَبْتَئِزْ‏.‏ فَسَّرَهُ قَتَادَةُ لَمْ يَدَّخِرْ‏.‏

 

The summary of the hadith above is:

 

The Prophet mentioned a man from the people of the past or those who preceded you. The Prophet said a sentence meaning: Allah had given him wealth and children. When his death approached, he said to his sons, "What kind of father have I been to you?" They replied, "You have been a good father." He told them that he had not presented any good deed before Allah, and if Allah should get hold of him He would punish him.' "So look!" he added, "When I die, burn me, and when I turn into coal, crush me, and when there comes a windy day, scatter my ashes in the wind." The Prophet added, "Then by Allah, he took a firm promise from his children to do so, and they did so. (They burnt him after his death) and threw his ashes on a windy day. Then Allah commanded to his ashes. "Be," and behold! He became a man standing! Allah said, "O My slave! What made you do what you did?" He replied, "For fear of You." Nothing saved him then but Allah's Mercy (So Allah forgave him).

 

(Sahih Bukhari 9: 599)